Kamis, 31 Desember 2015



Kebetulan saja saya membaca kembali Tambo Minangkabau, Berkali-kali saya Baca kalimat demi Kalimat Tambo ini dan mencoba untuk mengerti  berbagai ungkapan yang terbias di balik ungkapan Bahasa Tambo. Ketika saya menyimak, bahwa nenek moyang orang Minangkabau adalah dari Balik Gunung Merapi. Kampung manakah yang dimaksud asal usul di balik gunung Merapi?.
Tambo Memang, dengan pongahnya telah Memperbodoh anak Negeri  ini. Entah mengapa, suku bangsa yang mengaku banyak sekali memiliki bobot para pemikir di negri ini, hanya menurut saja ketika dikatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Balik Gunung berapi itu. Sepertinya, nenek moyang kami turun dari Kayangan. Walau begitu, saya masih mencoba mencari sebab dan berfikir sedikit jernih, Mungkin ketika itu Nenek moyang orang Minangkabau merasa perlu menghilangkan indentitas diri dan asal usulnya, atau mungkin ada yang memang perlu disembunyikan dari ekspansi bangsa luar, yang mungkin saja berupa sumber kekayaan alam.Emas , misalnya.
Oleh karena Bahasa Tambo adalah bahasa kiasan, saya mencoba untuk mengerti isi Tambo dari kearifan. Kearifan seorang penghulu yang menimbang –nimbang kemuskilan antara mungkin dan Patut. Sekiranya tidak ada yang di sembunyikan, tidak mungkin ada kebohongan. Sekiranya ada kebohongan tentu ada sebabnya. Oleh sebab itu, saya mencoba menelusuri kebohongan sejarah ini karena boleh jadi kebohongan itu disebabkan adanya tekanan dan rasa takut yang menyebabkan mereka menyembunyikan indentitas diri sesungguhnya.
Saya mencoba mulai menelusuri nama pulau ini, dari sederetan  nama yang dimilikinya, mulai dari Swarna Dwipa, Pulau Andalas, Pulau Perca dan Pulau emas. Menarik sekali, ketika kita menamakan pulau ini sebagai  Pulau Emas, karena konotasi yang di lahirkan sebutan ini adalah sebuah pulau yang amat kaya raya dengan hasil logam mulia yang luar biasa. Tetapi mengapa, justru di pulau yang amat kaya ini, penduduknya tergolong Miskin sampai sekarang. Itulah yang menyebabkan saya berfikir membaca Tambo Minangkabau, Mungkin mereka yang disebut Nenek Moyang suku bangsa di negeri ini yang bernama Minangkabau, dengan amat terpaksa berbohong untuk menyembunyikan sesuatu sumber kekayaan negerinya  yang akan membawa petaka. Kebohongan itu, bermula dari menyembunyikan indentitas dari mana mereka berasal.
Oleh itu, saya berusaha mencari tahu negeri yang berada di balik “ Telong Nan Batali” itu sebagai mana di kiaskan dalam Tambo Minangkabau. Pencarian itu saya coba dengan menelusuri hasil yang terbanyak di negeri ini, di sekitar abad ke 9.M. Ketika itu, Kamper, Damar, Kemenyan dan Emas menjadi primadona yang di perdagangkan di Asia tenggara melalui pelabuhan Barus yang terletak di pantai Barat sumatera.
Barus ketika itu dalam abad ke 9.M, merupakan salah satu tempat yang di buka di pantai barat Nusantara yang terutama berfungsi sebagai tempat transit, tempat pemuatan bagi pedagang-pedagang yang mencari bahan baku wangi2an dan obat2an yang didapatkan dari kawasan pedalaman sejak zaman Lobu Tua. Kaum pedagang tidak hanya berniaga tetapi sekaligus ikut membudi dayakan pulaunya. Kegiatan terakhir ini terihat khusus dalam penambangan emas di wilayah selatan pantai barat Sumatera, serta dalam penggunaan  jalan yang melintasi pulau dari teluk Tapanuli, diantaranya Batang Gadis sempai ke pelabuhan Panai. Ketika itu Barus Muncul sebagai sebuah tempat perdagangan asing yang mungkin didirikan pada pertengahan abad ke IX M oleh pedagang  dari India Selatan, Tabralingga, dan Raja-Raja Kalingga serta orang Srilangka. Dalam waktu yang singkat mreka di datangai oleh  Pedagang-pedagang dari  Timur Tengah yang mencari Kamper.Namun demikian, sebenarnya, Barus tidak hanya terlibat dalam perniagaan Kamper,Damar Kemenyan dan hasil hutan lainnya. Barus memiliki peranana  penting memamfaatkan Pulau sumatera sebagai sebuah pelabuhan yang disinggahi pedagang-pedagang dari teluk  persia. Barus ikut serta dalam penambangan dan pengolahan emas.
Kamper yang diperdagangkan dari Lobu Tua adalah barang Impor di Sriwijaya, ini membuktikan bahwa antara Lobu Tua tidak ada berhubungan langsung. Perniagaan antara Sriwijaya dengan Barus melalui pelabuhan Lamuri dan Panai.  Sampai saat ini, satu-satunya bukti yang diperoleh para archeolog berupa uang dari emas yang ditemukan di sumuran Candi di Jambi. Ini  yang memberi asumsi hubungan antara Sriwijaya dengan Barus adalah melalui Candi Gumpung Di Jambi  berasal dari akhir Abad ke 10 M. Setidaknya, antara  Barus dan sriwijaya mendapatkan emas dari sumber yang sama, dari jalur yang  berbeda, Pada ketika itu diketahui bahwa Ibu kota sriwijaya mendapatkan emas dari Lebong.  Yakni melalui perhubungan di pedalaman sumatera, yaitu melalui kota Bangko. Raja-Raja Sriwijaya, wangsa Syailendra sampai di Lebong melalui Bangko, sementara itu,Penemuan archa Bodi Shatwa di Barus di dalam abad ke 10 M, jelas merupakan bawaan orang Budha Mahayana yang ketika itu adalah agama yang di kembangkan melalui  pedalaman Jambi,sebuah pusat pengembangan Budha Mahayana di kawasan Tulang Bawang sekaligus merupakan jalur perhubungan ke Sriwijaya dan  ke pusat penambangan emas di Lebong yasng berhubungan ke Barus ada masa Lobu Tua.
 Akan tetapi Urbanisasi secara besar-besaran ke Lobu tua tidaklah berasal dari satu daerah saja.Para imigran dimaksud yang pasti bekerjasama untukmendapatkan sumber emas, Keadaan serupa yang mewarnai  sifat Campuran dan  bekerjasama orang-orang Kerala, dengan begitu sejak abad ke 9 , dapat dipastikan melalui hubungan Perniagaan emas antara Barus pada masa Lobu Tua ke kawasan Penambangan Emas Lebong yang ketika itu dikuasai oleh pedagang-pedagang India, Srilangka dan sebagian dari penguasa Sriwijaya telah berhubungan dengan pedagang Islam yang memunyai perkumpulan bernama ANJUVANNAM  bertemu di Lebong. Pengaruh Islam dalam perniagaan ini telah menjadikan seorang raja-raja Sriwijaya yang berhubungan mencari sumber emas ini menjadi seorang Mualaf pada akhir abad ke 10 M.Ia menetap di Pasir Genting bergelar INDRA DI LAUT. ( Indra Jeti )
Bagaimanaun juga tidak dapat di ingkari bahwa dalam salah satu silsilah Raja-raja Indra Pura menyebutkan seorang bergelar SURI DIRAJO  telah menuju ke pedalaman Minangkabau melalui Bangko dan mendirikan Perkampungan di sana. Tempat itu bernama Labuhan si Timbago, sebuah tempat di dekat puncak Gunung Merapi. Di situ, menurut sumber Tambo Minangkabau ia mempunyai seorang Puteri  Indra Jelita namanya yang kemudian berkahwin dengan Sri Maharaja ( Sang Sapurba) seorang Putra dari Rayendra Chola Dewa, Raja dari Chola yang gagal meminta Upeti ke Sriwijaya pada tahun 1030.M. Di dalam Tahun yang sama, kerajaan Chola juga menaklukan Raja Kadaram.
Kini, Lebong terletak di daerah Propinsi Bengkulu, dahulu dalam wilayah Minangkabau. Disebutkan bahwa menurut sumber-sumber yang dikumulkan P.Ovig dalam bukunya “ De Goudersten Van de Lebongstreek ( Bengkoelen).  Jaarboek van het Mijnwezen in Nedherland Indie. 1912 (Terbitan Batavia tahun 1914. Dapat diketahui bahwa penambangan emas di Lebong dimulai oleh Raja Indra Jetti, bergelar Suri Diraja.sekaligus mendirikan tempat pemukiman yang disebut Kota Indra ( Indra Pura). Ketika itu negeri ini belum bernama Minangkabau.Sejatinya, apa yang disebut kerajaan Pagaruyung yang di proklamirkan belum  wujud .Aditiawarman ketika itu belum lahir lagi.Sementara Kota Indra ( Indra Pura) sudah didirikan. Demikian juga dengan peperangan di Siguntur tahun 1409 yang melibatkan Indro Puro dan rezim Adityawarman dalam memperebutkan sumber-sumber emas juga tidak menghasilkan kekalahan kepada Indra Pura, karena peperangan itu hanya menghasilkan perjanjian yang dikenal dengan  undang – undang perjanjian tanah di kerinci, ( Lihat hasil penelitian Prof.Ully Kozok ). Oleh karena itu, asumsi yang menyatakan bahwa Indra Pura adalah merupakan  kerajaan “ di bawah kekuasaan “ Pagaruyung..tidak beralasan sama sekali.
Sumber-sumber tertua mencatat kekayaan Sriwijaya akan emas, pada ketika itu pusat Kekuasaan sriwijaya dalam abad ke 9 M adalah Pelembang. Akan tetapi Palembang tidak memiliki tambang emas, sumber emas itu adalah lebong. Ibnu Khurdadhbeh, seorang ahli  Sejarah dalam bukunya Tibbets, hlm.79.terbitan tahun 1979 menyebutkan bahwa  Lebong adalah daerah penyedia Emas dalam kekuasaan Sriwijaya yang dibuktikannya dengan Mata Uang Emas Sriwijaya berasal dari satu lembah yang persis tempat terdaatnya mata air yang mengalir ke Sungai Musi yang mengairi Palembang. Tempat itu ada di wilayah  Lebong.
Amat mudah dimengerti  mengapa sejarah Indra pura terkesan sulit di ketahui karena kurangnya sumber-sumber tertulis yang ditemukan. Bahwa dengan partisipasi Barus pada penambangan emas di Lebong, berarti  terdapat  jalur maritim disepanjang pantai barat sumatera. Logikanya jalur ini berbeda dengan logika jalur maritim di pantai sumatera bagian timur dan selat Melaka  yang terkenal  sebagai  jalur perniagaan internasional yang menghubungkan pusat-pusat  kebudayaan di Asia tenggara dan Sumatera. Jalur maritim di bagian barat sumatera tidak diketahui orang China, buktinya jalur ini tidak tercatat dalam catatan-catatan perjalanan China di waktu itu. Sebaliknya ini jelas diketahui Orang India dan Sriwijaya, tetapi mereka meninggalkan sedikit sekali  sumber tertulis mengenai perjalanan orang India di Bagian barat Pulau Sumatera, dimana terdapat juga Indra pura di jalur itu. Ada kemungkinan adanya kesepakatan antara orang Sumatera dan yang datang dari India untuk menjaga Rahasia sumber emas yang  terkaya itu.  Dugaan itu semakin masuk akal karena orang Inggris yang sudah ada di Bengkulu justru sudah satu setengah abad mengetahui adanya sumber emas itu, tetai tidak berhasil menemukannya.
Orang Belanda sendiri baru menemukan lokasi sumber emas itu, pada awal abad ke 20. Dimana ketika itu adanya keinginan membangun Benteng Malborough di Bengkulu, dimana untuk mkendapatkan keizinan memerlukan persetujuan dari  Pagaruyung. Ketika itu yang berkuasa di Pagaruyung  justru Sulta Abdul Jalil,sedangkan yang menguasai wilayah pencarian emas di sana adalah  putera sultan tunggal. Bergelar BAGAGAR ALAM. Oleh hal yang demikian, Belanda telah menganggap bahwa Tambang emas di Lebong yang pertama kalinya di usahakan oleh Raja-Raja dari Minangkabau.
Perbedaan penafsiran tentang sejarah yang ada di Lebong, sekaligus membawa pengaruh kepada keberadaan Indro Puro yang ada di sekitarnya.Perbedaan penafsiran ini terlihat dengan jelas pada legenda Bundo Kanduang  yang dikisahkan Tambo Minangkabau.Di katakan, bahwa Bundo Kanduang telah mengirab dan menghilang setelah diminumkan air kelapa Gading oleh pembantunya Bujang Selamat, untuk kemudian muncul di sebuah desa Lunang, di pesisir barat Sumatera dengan nama lain adalah kisah naif yang keliru.
Berbicara mengenai Indo Jeti, bergelar Suri Diraja jelas merupakan turunan Raja-raja Indra dari Sriwijaya yang membawa kepercayaan Budha Mahayana ke Indro Puro. Dengan pengaruh perniagaan Islam yang kuat dan datang dari Barus ia telah menjadi mualaf dengan merubah nama dan gelarnya menjadi Suri Diraja. Karena Indra adalah penjelmaan sifat dewa dari  orang syailendra, yang merupakan raja di gunung .Yang menganggap bahwa roh nenek Moyang mereka ada di puncak-puncak gunung yang tinggi dan barang siapa yang sampai kepuncak yang tertinggi, mereka menganggap dirinya akan mempunyai sifat seperti Dewa dan dapat berkomunikasi dengan roh-roh nenek moyang mereka. Maka dapat di pahami bahwa Suri dirajo telah sampai di Labuhan sitimbago, puncak merapi. Mendirikan wilayah baru yang disebut Langgundi Nan Baselo.
Seperti telah di uraikan, bahwa Sriwijaya telah berhubungan ke Lebong melalui Bangko. Kekayaan Emas Sriwijaya berasal dari tambang emas ini. Sebelum Belanda mengetahui sumber emas ini, Orang Sriwijaya sudah lebih dahulu mendirikan Indra Pura di kawasan itu. Rute perhubungan darat dari Bangko di pedalaman Sumatera ke Lebong di bagian barat Sumatera jelas melintasi Bukit Barisan yang melalui wilayah Minangkabau. Jalur itulah yang ditempuh kembali oleh Indo Jolito ketika meninggalkan Tanah Minang dan kembali ke wilayah Barat pantai sumatera. Karena ayahnya berasal dari kawasan itu. Koloni yang ditinggalkan, hasil perkawinan antara Indo Jolito dan Sang sapurba di Pariangan, kemudian menjelma menjadi Laras Koto Piliang yang kita kenal sampai hari ini.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar