Kebetulan saja saya membaca
kembali Tambo Minangkabau, Berkali-kali saya Baca kalimat demi Kalimat Tambo
ini dan mencoba untuk mengerti berbagai
ungkapan yang terbias di balik ungkapan Bahasa Tambo. Ketika saya menyimak,
bahwa nenek moyang orang Minangkabau adalah dari Balik Gunung Merapi. Kampung
manakah yang dimaksud asal usul di balik gunung Merapi?.
Tambo Memang, dengan pongahnya
telah Memperbodoh anak Negeri ini. Entah
mengapa, suku bangsa yang mengaku banyak sekali memiliki bobot para pemikir di
negri ini, hanya menurut saja ketika dikatakan bahwa nenek moyang mereka
berasal dari Balik Gunung berapi itu. Sepertinya, nenek moyang kami turun dari
Kayangan. Walau begitu, saya masih mencoba mencari sebab dan berfikir sedikit
jernih, Mungkin ketika itu Nenek moyang orang Minangkabau merasa perlu
menghilangkan indentitas diri dan asal usulnya, atau mungkin ada yang memang
perlu disembunyikan dari ekspansi bangsa luar, yang mungkin saja berupa sumber
kekayaan alam.Emas , misalnya.
Oleh karena Bahasa Tambo adalah
bahasa kiasan, saya mencoba untuk mengerti isi Tambo dari kearifan. Kearifan
seorang penghulu yang menimbang –nimbang kemuskilan antara mungkin dan Patut.
Sekiranya tidak ada yang di sembunyikan, tidak mungkin ada kebohongan.
Sekiranya ada kebohongan tentu ada sebabnya. Oleh sebab itu, saya mencoba
menelusuri kebohongan sejarah ini karena boleh jadi kebohongan itu disebabkan
adanya tekanan dan rasa takut yang menyebabkan mereka menyembunyikan indentitas
diri sesungguhnya.
Saya mencoba mulai menelusuri
nama pulau ini, dari sederetan nama yang
dimilikinya, mulai dari Swarna Dwipa, Pulau Andalas, Pulau Perca dan Pulau
emas. Menarik sekali, ketika kita menamakan pulau ini sebagai Pulau Emas, karena konotasi yang di lahirkan
sebutan ini adalah sebuah pulau yang amat kaya raya dengan hasil logam mulia
yang luar biasa. Tetapi mengapa, justru di pulau yang amat kaya ini,
penduduknya tergolong Miskin sampai sekarang. Itulah yang menyebabkan saya
berfikir membaca Tambo Minangkabau, Mungkin mereka yang disebut Nenek Moyang
suku bangsa di negeri ini yang bernama Minangkabau, dengan amat terpaksa
berbohong untuk menyembunyikan sesuatu sumber kekayaan negerinya yang akan membawa petaka. Kebohongan itu,
bermula dari menyembunyikan indentitas dari mana mereka berasal.
Oleh itu, saya berusaha mencari
tahu negeri yang berada di balik “ Telong Nan Batali” itu sebagai mana di
kiaskan dalam Tambo Minangkabau. Pencarian itu saya coba dengan menelusuri
hasil yang terbanyak di negeri ini, di sekitar abad ke 9.M. Ketika itu, Kamper,
Damar, Kemenyan dan Emas menjadi primadona yang di perdagangkan di Asia
tenggara melalui pelabuhan Barus yang terletak di pantai Barat sumatera.
Barus ketika itu dalam abad ke
9.M, merupakan salah satu tempat yang di buka di pantai barat Nusantara yang
terutama berfungsi sebagai tempat transit, tempat pemuatan bagi
pedagang-pedagang yang mencari bahan baku wangi2an dan obat2an yang didapatkan
dari kawasan pedalaman sejak zaman Lobu Tua. Kaum pedagang tidak hanya berniaga
tetapi sekaligus ikut membudi dayakan pulaunya. Kegiatan terakhir ini terihat
khusus dalam penambangan emas di wilayah selatan pantai barat Sumatera, serta
dalam penggunaan jalan yang melintasi
pulau dari teluk Tapanuli, diantaranya Batang Gadis sempai ke pelabuhan Panai.
Ketika itu Barus Muncul sebagai sebuah tempat perdagangan asing yang mungkin
didirikan pada pertengahan abad ke IX M oleh pedagang dari India Selatan, Tabralingga, dan
Raja-Raja Kalingga serta orang Srilangka. Dalam waktu yang singkat mreka di
datangai oleh Pedagang-pedagang
dari Timur Tengah yang mencari Kamper.Namun
demikian, sebenarnya, Barus tidak hanya terlibat dalam perniagaan Kamper,Damar
Kemenyan dan hasil hutan lainnya. Barus memiliki peranana penting memamfaatkan Pulau sumatera sebagai
sebuah pelabuhan yang disinggahi pedagang-pedagang dari teluk persia. Barus ikut serta dalam penambangan
dan pengolahan emas.
Kamper yang diperdagangkan dari
Lobu Tua adalah barang Impor di Sriwijaya, ini membuktikan bahwa antara Lobu
Tua tidak ada berhubungan langsung. Perniagaan antara Sriwijaya dengan Barus
melalui pelabuhan Lamuri dan Panai. Sampai
saat ini, satu-satunya bukti yang diperoleh para archeolog berupa uang dari
emas yang ditemukan di sumuran Candi di Jambi. Ini yang memberi asumsi hubungan antara Sriwijaya
dengan Barus adalah melalui Candi Gumpung Di Jambi berasal dari akhir Abad ke 10 M. Setidaknya,
antara Barus dan sriwijaya mendapatkan
emas dari sumber yang sama, dari jalur yang berbeda, Pada ketika itu diketahui bahwa Ibu
kota sriwijaya mendapatkan emas dari Lebong.
Yakni melalui perhubungan di pedalaman sumatera, yaitu melalui kota
Bangko. Raja-Raja Sriwijaya, wangsa Syailendra sampai di Lebong melalui Bangko,
sementara itu,Penemuan archa Bodi Shatwa di Barus di dalam abad ke 10 M, jelas
merupakan bawaan orang Budha Mahayana yang ketika itu adalah agama yang di
kembangkan melalui pedalaman
Jambi,sebuah pusat pengembangan Budha Mahayana di kawasan Tulang Bawang
sekaligus merupakan jalur perhubungan ke Sriwijaya dan ke pusat penambangan emas di Lebong yasng
berhubungan ke Barus ada masa Lobu Tua.
Akan tetapi Urbanisasi secara besar-besaran ke
Lobu tua tidaklah berasal dari satu daerah saja.Para imigran dimaksud yang
pasti bekerjasama untukmendapatkan sumber emas, Keadaan serupa yang
mewarnai sifat Campuran dan bekerjasama orang-orang Kerala, dengan begitu
sejak abad ke 9 , dapat dipastikan melalui hubungan Perniagaan emas antara
Barus pada masa Lobu Tua ke kawasan Penambangan Emas Lebong yang ketika itu
dikuasai oleh pedagang-pedagang India, Srilangka dan sebagian dari penguasa
Sriwijaya telah berhubungan dengan pedagang Islam yang memunyai perkumpulan
bernama ANJUVANNAM bertemu di Lebong. Pengaruh Islam dalam
perniagaan ini telah menjadikan seorang raja-raja Sriwijaya yang berhubungan
mencari sumber emas ini menjadi seorang Mualaf pada akhir abad ke 10 M.Ia
menetap di Pasir Genting bergelar INDRA DI LAUT. ( Indra Jeti )
Bagaimanaun juga tidak dapat di
ingkari bahwa dalam salah satu silsilah Raja-raja Indra Pura menyebutkan
seorang bergelar SURI DIRAJO telah
menuju ke pedalaman Minangkabau melalui Bangko dan mendirikan Perkampungan di
sana. Tempat itu bernama Labuhan si Timbago, sebuah tempat di dekat puncak
Gunung Merapi. Di situ, menurut sumber Tambo Minangkabau ia mempunyai seorang
Puteri Indra Jelita namanya yang
kemudian berkahwin dengan Sri Maharaja ( Sang Sapurba) seorang Putra dari
Rayendra Chola Dewa, Raja dari Chola yang gagal meminta Upeti ke Sriwijaya pada
tahun 1030.M. Di dalam Tahun yang sama, kerajaan Chola juga menaklukan Raja
Kadaram.
Kini, Lebong terletak di daerah
Propinsi Bengkulu, dahulu dalam wilayah Minangkabau. Disebutkan bahwa menurut
sumber-sumber yang dikumulkan P.Ovig dalam bukunya “ De Goudersten Van de
Lebongstreek ( Bengkoelen). Jaarboek van het Mijnwezen in Nedherland
Indie. 1912 (Terbitan Batavia tahun 1914. Dapat diketahui bahwa penambangan
emas di Lebong dimulai oleh Raja Indra Jetti, bergelar Suri Diraja.sekaligus
mendirikan tempat pemukiman yang disebut Kota Indra ( Indra Pura). Ketika itu
negeri ini belum bernama Minangkabau.Sejatinya, apa yang disebut kerajaan
Pagaruyung yang di proklamirkan belum
wujud .Aditiawarman ketika itu belum lahir lagi.Sementara Kota Indra (
Indra Pura) sudah didirikan. Demikian juga dengan peperangan di Siguntur tahun
1409 yang melibatkan Indro Puro dan rezim Adityawarman dalam memperebutkan
sumber-sumber emas juga tidak menghasilkan kekalahan kepada Indra Pura, karena
peperangan itu hanya menghasilkan perjanjian yang dikenal dengan undang – undang perjanjian tanah di kerinci,
( Lihat hasil penelitian Prof.Ully Kozok ). Oleh karena itu, asumsi yang
menyatakan bahwa Indra Pura adalah merupakan
kerajaan “ di bawah kekuasaan “ Pagaruyung..tidak beralasan sama sekali.
Sumber-sumber tertua mencatat
kekayaan Sriwijaya akan emas, pada ketika itu pusat Kekuasaan sriwijaya dalam
abad ke 9 M adalah Pelembang. Akan tetapi Palembang tidak memiliki tambang
emas, sumber emas itu adalah lebong. Ibnu Khurdadhbeh, seorang ahli Sejarah dalam bukunya Tibbets, hlm.79.terbitan
tahun 1979 menyebutkan bahwa Lebong
adalah daerah penyedia Emas dalam kekuasaan Sriwijaya yang dibuktikannya dengan
Mata Uang Emas Sriwijaya berasal dari satu lembah yang persis tempat terdaatnya
mata air yang mengalir ke Sungai Musi yang mengairi Palembang. Tempat itu ada
di wilayah Lebong.
Amat mudah dimengerti mengapa sejarah Indra pura terkesan sulit di
ketahui karena kurangnya sumber-sumber tertulis yang ditemukan. Bahwa dengan
partisipasi Barus pada penambangan emas di Lebong, berarti terdapat
jalur maritim disepanjang pantai barat sumatera. Logikanya jalur ini
berbeda dengan logika jalur maritim di pantai sumatera bagian timur dan selat
Melaka yang terkenal sebagai
jalur perniagaan internasional yang menghubungkan pusat-pusat kebudayaan di Asia tenggara dan Sumatera.
Jalur maritim di bagian barat sumatera tidak diketahui orang China, buktinya
jalur ini tidak tercatat dalam catatan-catatan perjalanan China di waktu itu.
Sebaliknya ini jelas diketahui Orang India dan Sriwijaya, tetapi mereka
meninggalkan sedikit sekali sumber tertulis
mengenai perjalanan orang India di Bagian barat Pulau Sumatera, dimana terdapat
juga Indra pura di jalur itu. Ada kemungkinan adanya kesepakatan antara orang
Sumatera dan yang datang dari India untuk menjaga Rahasia sumber emas yang terkaya itu.
Dugaan itu semakin masuk akal karena orang Inggris yang sudah ada di
Bengkulu justru sudah satu setengah abad mengetahui adanya sumber emas itu,
tetai tidak berhasil menemukannya.
Orang Belanda sendiri baru
menemukan lokasi sumber emas itu, pada awal abad ke 20. Dimana ketika itu
adanya keinginan membangun Benteng Malborough di Bengkulu, dimana untuk
mkendapatkan keizinan memerlukan persetujuan dari Pagaruyung. Ketika itu yang berkuasa di
Pagaruyung justru Sulta Abdul
Jalil,sedangkan yang menguasai wilayah pencarian emas di sana adalah putera sultan tunggal. Bergelar BAGAGAR ALAM.
Oleh hal yang demikian, Belanda telah menganggap bahwa Tambang emas di Lebong
yang pertama kalinya di usahakan oleh Raja-Raja dari Minangkabau.
Perbedaan penafsiran tentang sejarah
yang ada di Lebong, sekaligus membawa pengaruh kepada keberadaan Indro Puro
yang ada di sekitarnya.Perbedaan penafsiran ini terlihat dengan jelas pada
legenda Bundo Kanduang yang dikisahkan
Tambo Minangkabau.Di katakan, bahwa Bundo Kanduang telah mengirab dan
menghilang setelah diminumkan air kelapa Gading oleh pembantunya Bujang
Selamat, untuk kemudian muncul di sebuah desa Lunang, di pesisir barat Sumatera
dengan nama lain adalah kisah naif yang keliru.
Berbicara mengenai Indo Jeti, bergelar
Suri Diraja jelas merupakan turunan Raja-raja Indra dari Sriwijaya yang membawa
kepercayaan Budha Mahayana ke Indro Puro. Dengan pengaruh perniagaan Islam yang
kuat dan datang dari Barus ia telah menjadi mualaf dengan merubah nama dan
gelarnya menjadi Suri Diraja. Karena Indra adalah penjelmaan sifat dewa
dari orang syailendra, yang merupakan
raja di gunung .Yang menganggap bahwa roh nenek Moyang mereka ada di
puncak-puncak gunung yang tinggi dan barang siapa yang sampai kepuncak yang
tertinggi, mereka menganggap dirinya akan mempunyai sifat seperti Dewa dan
dapat berkomunikasi dengan roh-roh nenek moyang mereka. Maka dapat di pahami
bahwa Suri dirajo telah sampai di Labuhan sitimbago, puncak merapi. Mendirikan
wilayah baru yang disebut Langgundi Nan Baselo.
Seperti telah di uraikan, bahwa
Sriwijaya telah berhubungan ke Lebong melalui Bangko. Kekayaan Emas Sriwijaya
berasal dari tambang emas ini. Sebelum Belanda mengetahui sumber emas ini,
Orang Sriwijaya sudah lebih dahulu mendirikan Indra Pura di kawasan itu. Rute
perhubungan darat dari Bangko di pedalaman Sumatera ke Lebong di bagian barat
Sumatera jelas melintasi Bukit Barisan yang melalui wilayah Minangkabau. Jalur
itulah yang ditempuh kembali oleh Indo Jolito ketika meninggalkan Tanah Minang
dan kembali ke wilayah Barat pantai sumatera. Karena ayahnya berasal dari
kawasan itu. Koloni yang ditinggalkan, hasil perkawinan antara Indo Jolito dan
Sang sapurba di Pariangan, kemudian menjelma menjadi Laras Koto Piliang yang
kita kenal sampai hari ini.
